Jenis jenis crossover audio : CROSSOVER AKTIF DAN CROSSOVER PASIF
Apa Itu Crossover Audio?
Crossover adalah "polisi lalu lintas" frekuensi dalam sound system. Fungsinya adalah membagi sinyal audio agar setiap speaker (Tweeter, Mid, Woofer) hanya menerima frekuensi yang mampu mereka bunyikan dengan aman.
Mengenal Fungsi Crossover Audio: Perbedaan Tipe Aktif dan Pasif
Pernahkah Anda mendengar suara tweeter yang pecah atau woofer yang suaranya mendem? Itu biasanya terjadi karena tidak adanya crossover yang tepat. Crossover membagi suara menjadi beberapa rentang, seperti:
- 2-Way: Membagi menjadi Low dan High.
- 3-Way: Membagi menjadi Low, Mid, dan High.
- 4-Way: Membagi menjadi Sub, Low, Mid, dan High.
1. Crossover Pasif (Dipasang dalam Box Speaker)
Crossover pasif bekerja setelah sinyal diperkuat oleh amplifier. Alat ini tidak membutuhkan daya listrik tambahan karena hanya terdiri dari komponen pasif seperti induktor (kumparan), kapasitor, dan resistor.
Kelebihan:
- Instalasi sangat simpel, cukup satu amplifier untuk banyak speaker.
- Biaya lebih hemat dan ekonomis.
- Suara lebih jujur (tanpa pewarnaan sirkuit aktif).
Kekurangan:
- Banyak daya amplifier yang terbuang menjadi panas di dalam rangkaian.
- Titik potong frekuensi bersifat tetap (tidak bisa diubah-ubah).
- Rentan terjadi distorsi jika amplifier dipaksa bekerja keras (clipping).
2. Crossover Aktif (Dipasang Sebelum Amplifier)
Crossover aktif bekerja sebelum sinyal masuk ke amplifier. Artinya, sinyal suara dari mixer dibagi dulu, baru kemudian dikirim ke amplifier masing-masing. Sistem ini sering disebut sebagai sistem Multi-Amp atau Bi-Amp.
Kelebihan:
- Pembagian frekuensi sangat akurat dan fleksibel (bisa diatur manual).
- Efisiensi daya sangat tinggi karena amplifier bekerja pada satu rentang frekuensi saja.
- Lebih aman bagi driver speaker karena pemotongan frekuensi sangat tuntas.
Kekurangan:
- Membutuhkan banyak power amplifier (satu power per jalur frekuensi).
- Instalasi kabel jauh lebih rumit dan biaya lebih mahal.
Tabel Perbandingan: Aktif vs Pasif
| Aspek | Crossover Pasif | Crossover Aktif |
|---|---|---|
| Posisi Rantai | Setelah Power Amp | Sebelum Power Amp |
| Konsumsi Listrik | Tidak butuh listrik | Butuh supply listrik |
| Fleksibilitas | Tetap (Fixed) | Bisa diatur (Adjustable) |
| Jumlah Power | Cukup 1 Power | Minimal 2 Power (Bi-Amp) |
Rekomendasi Pro:
Untuk sound system lapangan atau konser besar, penggunaan Crossover Aktif atau DLMS adalah kewajiban. Namun untuk speaker rumahan atau instalasi cafe, crossover pasif sudah sangat memadai.
Kesimpulan
Fungsi crossover audio sangat krusial untuk menjaga kejernihan suara dan keawetan komponen speaker. Pilihan antara aktif dan pasif kembali lagi pada anggaran dan skala acara Anda. Jika ingin kualitas tanpa batas, pilihlah sistem aktif.
Apakah Anda lebih suka merakit crossover pasif sendiri atau menggunakan crossover aktif pabrikan? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar!
REKOMENDASI UNTUK ANDA:
Nanya dnk mas,kalo di crosover pasif ada pilihan di terminal buat tweeter nya 3db,6db,9db itu buat apa ya?
BalasHapusItu level response mas....biasanya ada dicrossover pasif dg tahanan yang berbeda beda....semakin kecil dbnya semakin besar nilai tahanannya...level makin besar berarti tahanannya semakin kecil...hal tersebut berguna sebagai proteksi buat Tweeter mas,biar g jebol trs....
HapusPendatang baru#
BalasHapusTanya donk mas, adakah crossover pasif yang 4way, smoga cpat di jawab😂😂🙏
Sepengetahuan saya crossover pasif biasanya hanya 3 way...kanal low,kanal mid dan kanal high. Jika dijadikan 4 way maka kanal ke 4 sudah pasti sub woofer....jika pertanyaannya ada atau gak....sudah pasti ada...biasanya digunakan untuk speaker aktif rumahan yang menggunakan prinsip kerja 3 way plus subwoofer. Namun saya belum pernah menggunakannya disound system yang saya design. Karena crossover pasif hanya digunakan sebagai limiter buat driver Tweetter saja agar tak mudah jebol atau rusak. Sisanya polosan mas....
Hapus